PENYALAHGUNAAN SILIKON TERNYATA MASIH MARAK

injeksiDi Indonesia dampak negatif suntik silikon sebenarnya sudah ada. Masyarakat Indonesia, terutama kaum wanitanya, pasti pernah mendengar kasus Ny Martha. Wajah ibu tiga orang anak tersebut seakan tak berbentuk sebagai akibat suntik silikon ke wajahnya tiga tahun lalu.

Lebih parah dari itu adalah kasus gadis cantik Hilda Pasman. Gadis belia tersebut akhirnya meninggal akibat suntikan silikon ke payudaranya. Padahal Indonesia gadis tersebut tengah berlibur karena sebelumnya bermukim di Belanda.

Menurut Sekjen Perhimpunan Ahli Bedah Plastik Indonesia (Perapi) dr Theddeus O.H. Prasetyono MD, sepanjang tiga tahun terakhir anggota Perapi menangani 249 kasus akibat suntikan silikon, khususnya silikon cair. Kasus tersebut baru 15 persen yang dilaporkan anggota Perapi. “Jumlahnya akan lebih besar lagi karena seperti fenomena gunung es,” katanya di Jakarta baru-baru ini seperti dikutip Antara.

Penggunaan silikon, khususnya yang cair, untuk tujuan medis sebenarnya sudah dilarang oleh pemerintah sejak tahun 1970. Namun hingga kini masih saja terjadi penyalahgunaan penyuntikan untuk tujuan mempercantik bagian tubuh tertentu para wanita.

Sayangnya banyak wanita yang ingin cantik secara instan kurang paham seluk beluk silikon. Padahal bahan yang disuntikkan ke tubuh mereka itu adalah silikon untuk industri. Bahkan tak jarang untuk keperluan penambal akuarium.

Lebih buruk dari itu, tindakan dilakukan bukan oleh dokter ahli bedah plastik. Tindakan penyuntikan dilakukan oleh tenaga ahli tersebut di klinik biasa atau salon kecantikan. Masyarakat memilih klinik atau salon kecantikan karena berbiaya lebih murah. Bahkan kini beredar kabar, ada yang berani menawarkan jasa suntik silikon cair hanya dengan biaya Rp 100.000.

Sekadar perbandingan, biaya operasi bedah plastik, misalnya, untuk memperindah hidung antara Rp 6 juta hingga Rp 11 juta. Sedangkan di klinik atau salon kecantikan berkisar Rp 3 juta sampai Rp 4 juta.

“Umumnya masyarakat tidak tahu kalau pekerjaan itu tidak boleh dilakukan oleh profesi yang bukan dokter spesialis bedah dan biasanya dapat informasi dari rujukan teman atau dari rayuan pelaku,” kata Teddy, panggilan dr Theddeus.

Selain persoalan tersebut, kaum wanita sudah saatnya menyadari bahwa penggunaan silikon cair sudah dilarang. Pelarangan itu mencakup untuk keperluan medis atau pun estetis karena berdampak buruk bagi fungsi organ tubuh. Pakar bedah plastik menyebut dampak negatif itu bisa berupa kulit tubuh menjadi jelek yang disertai warna merah pada bagian luar. Sedangkan dampaknya untuk kesehatan bisa seperti pusing-pusing dan infeksi organ.

Partikel silikon cair yang disuntikkan pada akhirnya akan menumpuk di jaringan dan memicu timbulnya reaksi inflamasi kronik yang disebut silikonoma.

Teddy menjelaskan, karena bentuknya yang cair, silikon cair yang disuntikkan ke organ tubuh akan meresap ke organ tubuh yang lain sehingga dampaknya sangat sulit dikontrol.

“Silikon cair juga tidak bisa diambil kembali dari jaringan secara menyeluruh dan bila sudah mengakibatkan gangguan akan sulit disembuhkan dan biaya penyembuhannya sangat mahal,” jelasnya.

Berkenaan dengan materi silikon, Teddy menjelaskan bahwa material tersebut sebenarnya merupakan bahan terbaik untuk kebutuhan implan guna memperbaiki tubuh manusia karena bersifat innert atau bisa diterima tubuh tanpa menimbulkan reaksi yang berarti.

“Dia tidak mengalami perubahan kimia di dalam tubuh, tetap stabil di dalam tubuh dan tidak terpengaruh suhu tubuh,” jelasnya.

Namun ia menegaskan, penyuntikan organ tubuh dengan silikon cair untuk keperluan apa pun tidak diperkenankan.

Operasi bedah plastik untuk tujuan rekonstruksi dan estetis sendiri, katanya, hanya menggunakan gel silikon dan silikon padat.

Gel silikon yang merupakan campuran antara silikon padat dan cair yang dibungkus dengan lembar silikon biasanya digunakan untuk pengisi implan payudara.

Sedangkan silikon padat terdiri atas lembar silikon atau bentuk implan jadi buatan pabrik yang digunakan untuk keperluan tertentu, seperti protesis katup jantung, testis tiruan serta implan hidung dan pipi.

Keputusan untuk melakukan setiap tindakan operasi bedah plastik sendiri, kata Teddy, harus dikonsultasikan dan dilakukan oleh oleh dokter yang memiliki kompetensi dan izin resmi untuk melakukannya.

Kolagen

Sebenarnya di samping silikon masih ada benda sejenis, yaitu kolagen. Cairan kolegan yang sudah masuk, misalnya disuntikkan lewat payudara, selanjutnya membentuk jaringan ikat kulit yang bisa menjadi keras dan kencang.

Cairan kolagen di kalangan dokter ahli bedah plastik merupakan kumpulan protein yang berasal dari rantai asam amino. Jika terjadi kesalahan tindakan, maka yang muncul adalah gelembung-gelembung. Bila diraba di sekitar payudara terasa benjolan seperti kelereng.

Dalam tubuh sendiri, kolagen terus diproduksi terutama rangka tubuh yang fungsinya sebagai bantalan antarsel. Sejalan dengan usia manusia, produksi kolagen bisa menurun yang ditandai dengan kerut-kerut di wajah.

Dokter ahli bedah plastik biasanya memberikan suntikan kolagen dari produksi di luar tubuh manusia. Kemajuan teknologi kedokteran memang memungkinkan misalnya dari tunjang hewan seperti sapi. Penyuntikan kolagen bisa membuat kulit yang semula berkerut menjadi mulus kembali.

Produksi kolagen dimulai sejak 1980-an. Awalnya difungsikan sebagai skin pengisi kulit, misalnya lubang bekas jerawat atau cacar bisa tertutup lagi. Kulit pun kembali mulus. Suntik kolagen ini bukan tanpa dampak negatif. Bisa berupa penolakan oleh tubuh sendiri. Bila dilakukan lewat suntik bisa menyebar ke seluruh tubuh. Sebut saja jika suntikan dilakukan di kaki, bisa jadi benjolan-benjolan akan muncul di bagian tubuh yang lain, misalnya selangkangan.

Lain halnya dengan silikon yang merupakan rentetan molekul silikat. Sebagian besar dokter ahli bedah plastik menjelaskan, makin panjang rentetan tersebut, bisa kian keras bahannya. Bila terkait dengan panjang dan pendeknya rentetan molekul, silikon tersebut dibagi menjadi silikon cair, kental (jelly) dan padat.

Silikon dalam bentuk jelly dikemas dalam kemasan khusus dengan tujuan agar tak pecah dan menyebar ke seluruh tubuh. Dalam bedah plastik, silikon padat dan jelly memang yang paling sering digunakan.

Bisa Diatasi

Silikon cair berbahaya dan sudah dilarang oleh pemerintah memang benar. Penggunaannya adalah akibat kian majunya teknologi kedokteran. Meski berbahaya dan bisa merenggut nyawa, bukan berarti tak ada jalan keluarnya.

Ini pula yang ditemukan oleh tim dokter dari RS Saiful Anwar (RSAA), Malang. Tim dokter dari kota tersebut menemukan cara baru untuk menanggulangi infeksi akibat suntikan silikon cair.

Dokter ahli bedah plastik di RS tersebut menggunakan obat phytofarmaka, berupa ekstrak tumbuhan dari China. Juga digunakan kapsul biologic response modifier (BRM) yang fungsinya untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Nah, masih ada lagi, dokter di sana menggunakan peeling, sejenis obat kanker yang dapat menghaluskan kulit.

Cara penanggulangan itulah yang dilakukan saat tim dokter RSSA menangani kasus Nyonya Marta (45) yang mengalami inflamasi (peradangan) akibat suntikan silikon cair pada Maret 1998 silam. Saat itu Nyonya Marta disuntik silikon cair pada bagian muka, dahi, hidung, dan dagu sebanyak tiga kali. (Mangku/berbagai sumber)

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=173345

—————————————————–

Want More ?

Dampak Dandan terhadap Nilai Tukar Rupiah

READ THIS FIRST !

Stop Using Dangerous Cosmetics !

True Story : Bencana Krim Siang & Krim Malam

Dikagumi 9 dari 10 Laki-laki

Advertisements