Updates from October, 2010 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • dustyswan 7:13 am on October 14, 2010 Permalink | Reply
    Tags: bahaya silikon payudara, bentuk payudara dengan silikon, efek negatif silikon payudara, foto payudara wanita dengan silikon, , gambar payudara dengan silikon, gambar payudara palsu, , , korban silikon payudara, penyakit akibat suntik silikon payudara, , resiko silikon untuk payudara   

    Awas, Silikon Payudara Bisa Meletus 

    Di balik efek instannya, operasi plastik menyimpan sejumlah risiko berbahaya.

    Tingginya pelaku bedah implan payudara di Inggris membuat sejumlah pakar semakin was-was. Sejumlah bahan baku silikon yang digunakan untuk menambah volume payudara bisa meletus dan memicu masalah kesehatan.

    Seperti dikutip dari laman Times of India, bahan baku berbahaya itu antara lain gel Poly Implant Prothese (PIP) yang diproduksi sebuah perusahaan asal Prancis. Penggunaan gel silikon itu bisa memicu peradangan serius di area payudara.

    Menanggapi larangan penggunaan PIP di Prancis dan Swedia, sejumlah pakar kesehatan di Inggris pun semakin gencar mengampanyekan bahaya bahan kimia itu. Mereka meminta seluruh dokter operasi plastik berhenti menggunakannya.

    Mereka juga meminta para pelaku implan payudara di Inggris, yang mencapai 8.500 wanita pada akhir tahun lalu, untuk semakin waspada. “Semua pasien hendaknya berkonsultasi dahulu tentang tingkat keamanan silikon yang akan digunakan sebelum operasi berlangsung dengan dokter bedah plastik,” kata Susanne Ludgate dari badan pengawasan obat dan produk kesehatan di Inggris.

    Di balik kemampuannya memperbaiki penampilan tubuh secara instan, operasi plastik menyimpan sejumlah risiko berbahaya. Untuk itu pikirkan dan pelajari dengan detail manfaat dan risikonya, sebelum memutuskan untuk melakukannya. Jangan sampai penampilan justru memburuk atau bahkan sakit setelah operasi.

    Advertisements
     
  • dustyswan 7:07 am on October 14, 2010 Permalink | Reply
    Tags: bahaya implan payudara, efek payudara silikon, , , Kehilangan Payudara Setelah Implan Meletus, korban implan payudara, , payudara silikon, penyakit akibat implan payudara, radang payudara akibat implan, , silikon,   

    Kehilangan Payudara Setelah Implan Meletus 

    Lindsey Easeman (The Sun)

    Gel implan yang membuat payudaranya terlihat padat dan seksi, meletus.

    Lindsey Easeman hanya bisa menyesal pernah melakukan operasi implan payudara. Bukan lantaran harus membayar bunga kredit selama tiga tahun untuk membiayai operasi itu, tetapi wanita 27 tahun ini justru kehilangan kedua payudaranya dan jatuh sakit.

    Seperti dikutip dari laman The Sun, payudara ‘palsu’ Lindsey hanya bertahan selama empat tahun pascaoperasi. Implan yang membuat payudaranya terlihat padat dan seksi meletus, tepat setahun setelah cicilan kredit lunas.

    Lindsey melakukan operasi pembesaran payudara pada 2006 dengan biaya £3.500 atau sekitar Rp49,5 juta. “Hasilnya sangat menakjubkan sesuai impian saya, tapi semua kebahagiaan itu berubah saat saya mulai merasakan sakit di bagian dada awal tahun ini,” katanya.

    Rasa sakit disertai benjolan di bawah ketiak kanan itu membuatnya segera ke dokter. Hasil pemeriksaan ultrasound scan menunjukkan, gel implan di payudara bagian kanan meletus sehingga meradang dan membentuk benjolan.

    Kondisi itu membuatnya harus menjalani operasi pengangkatan dua payudaranya segera. Payudara di bagian kiri juga harus diangkat sebelum meletus dan meradang. “Saya syok, sampai-sampai dokter memberi saya obat antidepresi. Saya tak bisa membayangkan dada saya keriput tanpa payudara,” ujarnya.

    Tapi, Lindsey tak bisa menghindari kenyataan itu. Ia terpaksa menjalani operasi pengangkatan dan harus bekerja ekstrakeras untuk membiayai operasi rekonstruksi payudara dengan bahan yang lebih aman.

    Lindsey adalah satu dari ribuan warga Inggris yang terpikat iklan implan payudara dengan bahan Poly Implant Prothese (PIP). Bahan gel berbahaya yang diproduksi perusahaan asal Prancis ini sudah lama ditentang pakar medis karena bisa memicu peradangan serius di area payudara.

     
  • dustyswan 9:00 am on December 26, 2009 Permalink | Reply
    Tags: daftar produk kecantikan paling dicari, daftar yang paling dicari di blog, gosip kecantikan terpopuler, isu kecantikan terhangat, isu kecantikan yang paling dicari wanita, pencarian tentang kecantikan terpopuler, Top 10 Search for Beauty Issue, Top 10 Search for beautyonwatch, Top 10 Search in search engine, wise quote about beauty   

    Top Search for Beauty Issue 

    inmagine.com

    Bahasa Indonesia

    At first I made this blog to evoke awareness of women to beauty issue and its industry. The beauty industry is worth very much in line with access to the media that created the ‘snow white -like images’ on women in almost all the world. The beauty industry is very profitable on the one hand (of course employers) and many casualties on the side of consumers.

    After a few months I run this blog, I noticed that the awareness of women to health issues associated with the beauty already starts to increase. Women are more critical to choose the beauty products from the legal side, the function and its effect on health. But not a few women also still looking for ways to be pretty instantly by injecting silicone, whitening injection, instant bleaching, etc..

    Apart from the two opposites polar above – women are still not able to stop imagining to be a beautiful princess and an idol of all men. Really?

    These are the most wanted list in this blog for 2-3 months :

    w-ii navores 212
    w ii navores 186
    navores 155
    navores whitening cream 111
    wii navores 78
    pemutih ketiak 77
    kosmetik beracun 74
    bedah vagina 60
    w-11 navores 59
    operasi plastik 57
    kosmetik berbahaya 55
    lipstik berbahaya 50
    mascara berbahaya 50
    krim malam 49
    pencemaran pestisida 48
    kosmetik 43
    plastic surgery disasters 39
    ponds berbahaya 38
    too much makeup 35
    operasi plastik michael jackson 32
    krim malam yang bagus 29
    kantung mata 29
    navores whitening 29
    kosmetik palsu 29
    pubic 28
    worst cosmetics 27

    (not all included, since too long …)

    Skin whitening issue is still a top search since this blog published . No wonder skin whitening business worth hundreds of billions of dollars in the world.

    Although it never happened that a woman was succeeded whiten her skin in a healthy and permanent way because of using a particular whitening product, whitening products is still a best seller on the beauty market.

    I think the issue of skin whitening is not about a beauty issue but regarding cultural issues and Body Image. It’s about how a woman imaging herself. If one think brown skin is beautiful, she do not need to waste money to buy skin bleaching right?

    Wise Quote :

    Ladies, You are fearfully and wonderfully made. For you are my treasured possession. (From God Almighty 🙂 )

    I praise Thee because my creation is powerful and fantastic; miraculous what You make, and my soul really noticed it.

     
    • Makeup DIY 10:37 pm on February 4, 2010 Permalink | Reply

      Hello darling, great blog! I really appreciate this article.. I was curious about this for a while now. This cleared a lot up for me! Do you have a rss feed that I can add?

  • dustyswan 6:06 am on June 24, 2009 Permalink | Reply
    Tags: artis korban suntik silikon dokter palsu, Artis Pun Jadi Pasien Dokter Palsu, Artis Pun Jadi Pasien Dokter Palsu Penyuntik Silikon, artis suntik silikon, , , , , , Dokter Palsu Penyuntik Silikon, , , , , , , , kasus suntik silikon dokter palsu indonesia, , , , , malpraktek suntik silikon, , , , salon palsu suntik silikon, salon suntik silikon dicekal, , , , suntik kecantikan ilegal, , , , suntik silikon dicekal, suntik silikon ilegal, , suntik silikon palsu,   

    Artis Pun Jadi Pasien Dokter Palsu Penyuntik Silikon 

    Jakarta – Dokter palsu yang ditangkap oleh Polres Jakarta Selatan, memiliki banyak pelanggan. Selama 7 tahun berpraktek, Asmari (45) telah memiliki pasien berjumlah ratusan, di antaranya bahkan artis-artis ibukota.

    “Pasien saya banyak ada ratusan. Artis-artis juga pakai,” ujar Asmari saat digelandang di Polres Jakarta Selatan, Jl Wijaya II, Jakarta, Jumat (19/6/2009). Dokter palsu ini ditangkap polisi di Mampang siang tadi.

    Asmari mengaku membuka praktek suntik silikon sejak 2002. Lulusan Sekolah dasar (SD) ini tidak mempunyai tempat praktek tetap. Meluasnya layanan suntik silikon Asmari menyebar melalui informasi dari pasien yang satu ke pasien lainnya.

    Diakui Asmari, keahliannya menyuntik didapat saat bekerja di sebuah salon. Tapi salon tempatnya bekerja kemudian bangkrut pada tahun 2000. Alhasil, Asmari pun menekuni profesi sebagai dokter palsu khusus suntik silikon.

    “Tapi belum ada yang komplain. Belum ada yang infeksi dan rusak jaringan kulitnya, masa saya ditangkap. Kalau ada korbannya, sini tunjukkan,” tambah Asmari membela diri.

    Tertangkapnya pria yang mengaku sempat mengenyam pendidikan di bangku Sekolah menengah Pertama (SMP) ini bermula saat polisi menelusuri laporan salah satu pasien Asmari. Asmari ditangkap saat hendak  menyuntikkan silikon ke tubuh pasiennya di kawasan Mampang, Jakarta Pusat.(detiknews)

     
  • dustyswan 8:18 am on June 8, 2009 Permalink | Reply
    Tags: a life-threatening infection after using a body milk lotion, bakteri dalam body lotion, body creams could be lethal to critically ill patients, body lotion penyebab infeksi, Cosmetics 'deadly' to hospital patients, darah keracunan akibat body lotion, Dying to Look Good, infeksi akibat kosmetik, kasus infeksi akibat kosmetik, korban kosmetik mematikan, , kosmetik penyebab infeksi, moisturisers and body creams contain a potentially deadly bacteria, suffered blood poisoning dari body milk   

    Cosmetics 'deadly' to hospital patients 

    inmagine.com

    inmagine.com

    Some moisturisers and body creams could be lethal to critically ill patients, a study warns. The products could contain a potentially deadly bacteria. The findings come after five intensive care patients in the same hospital were struck down with a life-threatening infection after using a body milk lotion.

    Three suffered blood poisoning as a result and two got lung and urinary bugs. All the patients had used a body lotion from the hospital trolley, so the containers were sent away for testing.

    They contained bacteria known to cause hospital infections which could be deadly to those with weak immune systems or some lung diseases, said the authors of the Spanish report.

    Luckily, the body milk was withdrawn and the hospital in Barcelona stamped out the bug.(metro.co.uk)

     
    • Homemade Colon Cleanse 7:59 pm on June 8, 2009 Permalink | Reply

      Colon cleansing products should be sufficient enough to help you get rid of impurities, toxins, and wastes that have accumulated in your body. However, there are times when this is not enough. Sometimes, you need to get all the help you can get. This is where acai berry comes along.

    • Homemade Colon Cleanse 7:55 pm on June 8, 2009 Permalink | Reply

      Always is better to try natural therapies because your body needs to remove all the artificial ingredients includes medications, today one of the most used and effective techniques is the colon hydrotherapy.

  • dustyswan 1:57 am on May 16, 2009 Permalink | Reply
    Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,   

    How skin lightening takes its toll on your health 

    inmagine.com

    inmagine.com

    EDGAR R. BATTE

    Walking around town will reveal just how low some women think of their natural black skin complexion. They strive to achieve a lighter skin complexion because they think that the lighter their skin complexions are, the better and probably more appealing they will look.

    As such, skin bleaching continues to manifest itself in many black communities where even the supposedly lighter-looking women will go an extra mile to make themselves lighter.

    hth2_2.gif

    Several women in Uganda use soaps and creams containing mercury to obtain a lighter complexion. NET PHOTO

    Skin whitening, as answers.com offers, is a term covering a variety of cosmetic methods used to whiten the skin, in parts of East Asia, the Americas, the Middle East and Africa.

    The site adds that skin lightening or whitening is a controversial topic as it is closely intertwined with the detrimental effects on health, identity, self image and racial supremacy.

    According to Dr Pius Okong, a health consultant with St Francis Hospital Nsambya, this remains a big problem he attributes to inferiority complex where women are not satisfied with the colour of their skins and therefore go out to try and achieve a light complexion which comes with a price to pay. In most cases, the products have found their way to shops unchecked yet the effects of the chemicals used in making (such) products like soaps and creams, as Dr. Vincent Karuhanga explains, have been found to have adverse effects on unborn children, women and men.

    “Many of these bleaching agents contain steroids, hydroquinone and mercury which can affect the body as drugs do, given the fact that they interfere with the production of melanin- group of naturally occurring dark pigments, especially the pigment found in skin,” Dr Karuhanga elaborates.

    In communities, the problem has not gone unattended to and last year, The International Anti-Corruption Theatre Movement (IATM), a pressure group against bleaching, indicated that thousands of women in Uganda use soaps containing mercury to obtain a lighter complexion without knowing the health hazards of using such soaps.

    Mercury according to findings through Nordic Chemicals Group, the Geological Survey of Denmark and Greenland and Ms Uganda, causes a number of health problems such as skin cancer and nervous disorder.

    Steroids, on the other hand, could cause diabetes given that they increase the amount of sugar metabolism in the body thus worsening the infection, Dr Karuhanga adds. He points out creams like Pimplex usually used to treat pimples, contain mercury which is reportedly poisonous.

    According to mercuryexposure.org, mercury-based bleaching creams contain ammoniated mercury or mercrous chloride as a bleaching agent. Some of these creams may contain up to more than 2-5 per cent mercury that will be harmful to health, therefore resulting in mercury poisoning, especially chronic mercury poisoning.

    “In the Minimata epidemic in Japan, there were 42 brain-damaged children in 400 live births. Only one of the mothers had no sign of having mercury poisoning.

    Majority of the mothers had used mercury-based bleaching creams during their childbearing years,” mercuryexposure.org explains.

    “The biggest problem is that by the time someone realises signs of the effects, the damage is already done.

    The inferiority complex has also caught up with men and they have started bleaching their skins too,” Dr Karuhanga further explains, adding that the worst side effect victims could suffer would be worsened infections.

    Mercury, he adds, can affect the kidney and nervous system while hydroquinone can damage the body nerves as well as the blood cells. Steroids have a pushing syndrome and can thus precipitate high blood pressure, diabetes and could cause acne.

    However, that is not to say all bleaching agents have bad side effects. And as Dr Karuhanga and David Ssali, a dermatologist at Dama Medical Clinic agree, some herbal creams and soaps have been found to be good, given the fact that most are natural.

    According to Ssali, for most people, the intention is not to bleach. They are looking for a good skin but with the continuous trials with different products, end up bleaching their skins unknowingly.

    “People should be made aware of alternatives to achieving this (good skin). They could eat fruits like carrots, simsim and a variety of coloured fruits and vegetables,” Ssali who did not rule out skin cancer for continued use of skin products, adds.

    “By using some of these products, you remove the natural pigment which makes the skin vulnerable to ultraviolet rays, opening the skin pores further which puts you at many health risks,” he warns.

    According to the AAR Health services Kenya website, dermatologists caution that the treatment of skin conditions must be done strictly with the advice of the gynaecologists or dermatologists. In pregnant women, the unborn child is susceptible to medications, even those applied to the skin and great care must be taken.

    In neighbouring Kenya, there has been a ban on bleaching creams with stringent laws and public campaigns have been launched to address the harmful effects of these products on the skin.

    Much as effort has been taken to ban the importation of skin lightening creams, they are still in plenty and sold across the counter in most shops and on the roadside in Uganda.

    Ideally, skin whitening could be advised to treat pigmentation (coloration of tissues by pigment) disorders like spotted skin tone, age spots, freckles- small, usually yellow or brown spots on the skin, often seen on the face and pregnancy marks.

    AAR Health Services adds that an example of a circumstance under which a dermatologist could prescribe skin lighteners would be a situation when he detects altered skin colouring (pigmentation). A skin lightener may be prescribed for medical reasons.

     
    • set and forget clock 5:02 am on October 1, 2010 Permalink | Reply

      This is my second visit to this blog. We are starting a new initiative in the same category as this blog. Your blog provided us with valuable information to work on. You have done a admirable job….

      set and forget clock

    • beautyonwatch 8:29 am on November 1, 2009 Permalink | Reply

      aku belum pernah coba kesana, kalau gak salah pernah masuk tivi. coba cari majalah Surgery, disana ada ulasan tentang dokter2 kecantikan.

    • jonny 7:52 am on November 1, 2009 Permalink | Reply

      halo beauty on watch.. ngmg2 kok page yg ngebahas ttg wii navores ga bs di pakai lg ya??

      btw mo nanya ni aibee hospital bgs ga?? yg di bogor itu..

      thx anyway.. plis reply me

  • dustyswan 6:31 am on May 14, 2009 Permalink | Reply
    Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,   

    Dangerous Beauty: Thailand’s Women Want White Skin At Any Price 

    thailand woman

    Many women in Thailand dream of whiter skin. They think white skin means not only beauty, but also success – professional and romantic.

    Cosmetic companies advertise skin-lighteners on television and billboards. But some of these products are not only expensive – they are also dangerous. They attack the skin to make it lighter. Seeking a share of the market are not only major companies, but also countless generic producers who mix any kind of ingredients together and then sell them cheap. But thrift can turn out to be very short-sighted for the clients, who are often left with scathed faces and ruined lives as a result.

    ———————————————————-

    Khun Panya wanted to be beautiful – and that meant having white skin. To fulfil her dream she applied lightening creams, on her face, throat and arms. But the aggressive cosmetics ruined her skin and disfigured her face. She has undergone lengthy medical treatment, but so far nothing has helped. And her doctors don’t give her much hope. This is the cream that was her undoing.”It’s so dreadful,” says Khun Panya. “I no longer have the nerve to go out. I can’t bear to look at myself in the mirror. I have no self-confidence anymore. I hope some doctor somewhere will give me an ointment that helps. Why on earth did I use that cream? Why?”

    Khun Panya comes from Rayong, a small town about a two-hour drive from Bangkok. Because she could not afford the expensive creams made by established cosmetics manufacturers, she bought her product at one of the local open-air markets, where, in addition to street food, clothing and household articles, cosmetics are also on sale. They are no-name Thai products. They are cheap and they all promise to lighten skin. Most of the preparations are banned. The information on the packaging is just as fake as what is inside, a fact most sellers seem blissfully unaware of.

    “I used the cream on my face every day,” Khun Panya describes. “After a week my skin was very smooth and soft. Then it peeled off like a layer of dirt – and my face was whiter. At the end of the first month I was still satisfied.” She used to be a singer in a club. She lost the job when she lost her looks. Now she and her friend live on what they earn from occasional work, and what their grown children can afford to give them. Originally, she expected fairer skin to earn her more money. “It’s just better to be white, much better than being dark. People look at you differently if you’re white. People whose work doesn’t bring them into the public eye might think otherwise. But as a singer, if you’re light-skinned, audiences like you better.”

    Skin lightening products are very popular in Asia, because fair skin is considered to be elegant and desirable – with all the consequences that entails. Niwat Polnikorn knows these quite well. He works as dermatologist at the Thai Society of Cosmetics Dermatology and Surgery: “We often treat skin damage like Khun Panya’s. Many people who come to us have skin that’s become infected, irritated and damaged from using these dangerous lightening creams. Nowadays they make up the majority of our cases.”

    Television commercials in Thailand support this irrational fashion. The message on Thai television is that only women with fair skin are successful. Most Thais believe that and buy the skin creams. Dermatologists warn that the long-term effects of whitening ingredients have not been adequately researched – and that includes those in brand-name products. Despite that, even educated middle class women fall prey to the craze for white skin. A pedestrian explains: “It just looks better. Whatever you do, white is more beautiful. Dark-skinned women are ugly – fair ones always look pretty.” And another girl assumes: “Perhaps the trend for lightening skin comes from Korea or Japan. But I also think white just looks healther, more radiant – prettier.” “Thailand is a hot country, explains a third woman. “Most Thais have dark skin – that’s why they want to be fairer, like foreigners from the west.”

    In health spas and cosmetic salons in Bangkok’s more affluent districts, big money is spend on beauty treatments. These are not ready-made creams, and they are certainly not cheap. Most salon owners prefer natural products and mix their creams themselves. But here, too, it’s all about whiteness. Chawanrat Callan, Cosmetician at a spa, explains: “I want to provide a product that makes the skin so fair that it embodies our idea of beauty. All the media are full of light-skinned people. There are many actors, for instance, who have healthy white skin, and that’s how I want to look as well.”

    Commercials reflect the admiration and social recognition for the women with whiter skin. It’s a deeply racist attitude that is hardly ever called into question in Asia. In the shops, there is scarcely any cream that does not contain lighteners. “The supermarkets are full of such products”, Dr. Polnikorn says. “Many are very expensive. Those who can’t afford them buy them on the black market. And that can’t be controlled. No sooner is a product banned than it reappears under a new name.” The authorities have already banned more than fifty products. Those who make them are seldom caught.

    For Khun Panya, the pursuit has come too late. But to prevent others from suffering the same fate, she has dared to go public. Education is sorely needed, especially in rural areas of Thailand, where most people have little idea of how dangerous these creams can be. “Many women saw me on television and phoned in immediately,” she remembers. Because they had the same symptoms I had: redness and itching. I told them: ‘stop using those creams. And do it soon. Just look at me.'” Despite that, Khun Panya still thinks white skin is more beautiful. She just thinks she chose the wrong way to get it.(dw-world.de)

     
  • dustyswan 9:28 am on April 7, 2009 Permalink | Reply
    Tags: Hang Mioku, inject cooking oil, Korean woman addicted to plastic surgery   

    Cosmetic surgery addict injected cooking oil into her own face 

    A Korean woman addicted to plastic surgery has been left unrecognisable after her obsession led her to into her face.

    Hang Mioku

    Photo: Saigo-Sinopix / Rex Features

    Hang Mioku, now 48, had her first plastic surgery procedure when she was 28; hooked from the beginning she moved to Japan where she had further operations – mostly to her face.

    Following operation after operation, her face was eventually left enlarged and disfigured, but she would still look at herself in the mirror and think she was beautiful.

    Eventually the surgeons she visited refused to carry out any more work on her and one suggested that her obsession could be a sign of a psychological disorder.

    When she returned home to Korea the surgery meant Hang’s features had changed so much that her own parents didn’t recognise her.

    After realising that the girl with the grossly swollen face was indeed their daughter her horrified parents took her to a doctor. Once again the possibility that Hang had a mental disorder was raised and she started treatment.

    However, this treatment was too expensive for her to keep up and she soon fell back into old ways.

    Amazingly, she found a doctor who was willing to give her silicone injects and, what’s more, he then gave her a syringe and silicone of her own so she could self-inject.

    When her supply of silicone ran out Hang resorted to injecting cooking oil into her face.

    Her face became so grotesquely large that she was called “standing fan” by children in her neighbourhood – due to her large face and small body.

    As Hang’s notoriety spread she was featured on Korean TV. Viewers seeing the report took mercy on her and sent in enough donations to enable her to have surgery to reduce the size of her face.

    During the first procedure surgeons removed 60g of foreign substance from Hang’s face and 200g from her neck.

    After several other sessions her face was left greatly reduced but still scarred and disfigured.

    And it would seem that even Hang can now see the damage she has done; she now says that she would simply like her original face back.

    source :

    http://www.telegraph.co.uk/

    —————————————-

    Want More ?

    Asian plastic surgery on CNN

    Plastic Surgery Trouble in Korea

    ‘Less is More’ Virus!

     
    • shania 6:03 pm on February 14, 2011 Permalink | Reply

      she was so pretty

    • Jonnie 6:32 am on November 15, 2009 Permalink | Reply

      My heart goes out too her, because of the media saying if u don’t look a certain way u want be accepted in certain parts of the world.Like for example fashion industry, acting,modeling,etc. They say u have too have the perfect face, and figure. Women need too learn how too expect what God gave too them. We don’t need all those posing in our body. I saw her face before she ejected cooking oil into her face in she was so beautiful. It’s important that us as women in mother let are little girls no not too have thing put into your body without a medical problem.People need to not make fun of her, be supportive of her and understand that she was sick. The Doctor was at fault too because he gave her a needle too ejected what she was supposed too ejected into her face. But when it ran out she didn’t have the money too go get more it’s just like a drug.

    • Plastic 3:05 pm on April 27, 2009 Permalink | Reply

      If this is really happened, we must think about it deeply.

      • beautyonwatch 3:47 pm on April 27, 2009 Permalink | Reply

        yes, it has been my deep concern so that I start this campaign. please visit my page : Less is more virus. I invite women around the world to be proud of natural beauty.

  • dustyswan 7:00 am on March 20, 2009 Permalink | Reply
    Tags: doctor kayama berbahaya, doctor kayama dicekal, doctor kayama skincare, kosmetik terlarang, susahnya ingin cantik   

    Susahnya Ingin Cantik 


    Jumat, 28 Nopember 2008 | 13:05 WIB
    Setiap perempuan ingin memiliki wajah bersih, bebas jerawat, putih dan terawat. Tak heran, bila klinik kecantikan terus bermunculan bak jamur di musim penghujan dan gencar menawarkan berbagai produk kecantikan untuk mengatasi hal tersebut. Namun, kosmetik mahal yang acap dikonsumsi kalangan menengah atas pun tak menjamin bahwa produk tersebut aman digunakan.

    Itu setelah BBPOM (Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan) Pusat memerintahkan agar 27 merek produk kosmetik berbahaya ditarik dari pasaran (belakangan ada 30 merek susulan yang ditarik). Termasuk diantaranya beberapa produk cukup terkenal, yang dijual dipusat perbelanjaan mewah dengan pelanggan kalangan menengah atas. Dari 27 merek kosmetik berbahaya yang telah diuji oleh BBPOM, sebagian adalah merek terkenal.

    Misalnya merek Doctor Kayama, diklaim sebagai produk buatan Jepang dan bahkan menggunakan artis terkenal sebagai bintang iklannya diantaranya duo Ratu (formasi lama) Maia Esthianti dan Mulan, Cici Paramida, Vonny Cornelia, Widyawati dan masih banyak lagi.

    Yang mencengangkan, berdasarkan hasil penyelidikan BBPOM diketahui perusahaan yang memproduksi produk itu yakni Ichiyama International Pte,ltd tidak terdaftar di Jepang. Universal Beauty Enterprise Sdn,Bhd selaku importir yang mengimpor produk tersebut dari Jepang ternyata juga tidak pernah terdaftar di Malaysia. Dokumen yang diajukan ke BPOM oleh CV. Estetika Karya Pratama selaku penjual dan pembuatnya di Indonesia ternyata palsu.

    Ditariknya produk yang dijual secara eksklusif – tak dijual bebas di pasaran- ini membuat para pelanggan Doctor Kayama di Surabaya panik. Para wanita yang ingin tampil cantik pun juga was-was akan keamanan aneka produk kecantikan yang beredar di pasaran. Sebab waktu membuktikan, merek dan produk mahal pun tak menjamin bebas dari kandungan bahan kimia berbahaya.

    Ira Meilani, Sekretaris Public Relations Hotel Garden Palace Surabaya mengaku sangat bingung dan takut dengan maraknya kosmetik yang mengandung bahan kimia berbahaya seperti mercuri, rhodamin B dan sejenisnya. Sebab, dia memiliki kulit wajah yang sangat sensitif. Selama 14 tahun terakhir, dia kerap keluar masuk dokter dan klinik kecantikan untuk menjaga penampilan dan kecantikan wajahnya. Dan dia tergiur memakai Doctor Kayama setelah banyak teman-temannya sukses menggunakan produk itu. ”Jujur, saya syok saat Doctor Kayama Skin Care masuk ke dalam daftar kosmetik berbahaya. Sebab, rencananya tanggal 30 November ini, saya mau mencoba perawatan klinik yang ada di Galaxy Mall tersebut. Waduh, susah juga pengen cantik ya,” kata Ira.

    Perempuan yang baru 7 bulan kerja di Garden Palace ini menjelaskan banyak temannya merupakan kastemer tetap Doctor Kayama. Produk impor dari Jepang ini dikenal sebagai produk branded karena harganya mahal. Pemakainya rata-rata memiliki wajah yang bersih dan terawat. Karena itu dirinya tertarik untuk mencoba.

    Sejak produk itu ditarik dari peredaran, Ira mengaku bingung menentukan kosmetik dan klinik kecantikan yang aman. Sebab, harga perawatan yang mahal seperti Doctor Kayama Skin Care toh tidak menjamin bahwa produk yang ditawarkan aman digunakan.

    Esthi, salah satu karyawan swasta di Jl Penghela juga kaget saat Doctor Kayama ditarik dari peredaran. Padahal dia mengenal produk itu sejak setahun terakhir saat ada kegiatan temu pelanggan Doctor Kayama secara besar-besaran di Hotel Shangri-La Surabaya tahun lalu. Saat itu kegiatan itu bertabur artis, bahkan artis senior Widyawati ikut memberikan testimoni rahasia kecantikan kulitnya menggunakan produk Doctor Kayama.

    “Saat itulah saya tertarik pakai. Harganya mahal, satu paket mulai sabun pembersih, krem malam dan siang sekitar Rp 2,5 juta. Dan untuk sekali perawatan termasuk facial di klinik yang sama, saya selalu habis Rp 1 juta. Saya masih nggak percaya apa benar produk itu berbahaya untuk kesehatan ya,” kata Esthi yang sekarang mengaku takut meneruskan menggunakan produk itu setelah ada kabar pencekalan, padahal produk masih tersisa cukup banyak.

    Dia mengaku tertarik menggunakan produk impor itu karena diklaim menggunakan

    bahan alami sari tumbuh-tumbuhan (botanical) yang telah melalui uji coba para dermatolog Jepang. Selain itu dia melihat para pengguna memiliki kulit bersih dan putih. Sedangkan khasiat dari produk itu juga dirasakannya. “Sempat terpikir apa nggak karena persaingan bisnis ya. Soalnya banyak produk sejenis di pasaran, sama-sama diklaim produk impor dan selama ini aman beredar,” katanya.

    President Direktur Miracle Group –pusat perawatan kecantikan-, dr Lani Juniarti mengatakan pengguna kosmetik memang harus berhati-hati dalam menentukan pilihan. Sebab banyak kosmetik yang mengandung bahan berbahaya. Namun, dia menjamin bahwa produk yang dijual di Miracle tidak menggunakan bahan-bahan terlarang seperti merkuri, dan zat pewarna rhodamin B. ”Produk kami menggunakan bahan asam asetat, vitamin C. Produk kami juga tidak dijual bebas tanpa pengawasan,” kata dr Lani.

    Dia menyarankan agar para konsumen lebih waspada dan tidak sembarangan memilih produk kosmetik. Sebaliknya melihat dulu daftar isi di dalam kemasan, atau lebih baik memilih produk yang sudah terbukti aman digunakan.

    Meskipun saat ini pemberitaan produk kosmetik berbahaya sangat gencar, namun ujar dr Lani pihaknya tak takut kehilangan kastemer. Sebab, dalam praktiknya sehari- hari, Miracle selalu memberikan informasi dan edukasi tentang kesehatan dan produk yang ditawarkan.

    Sasaran Empuk

    Sekadar mengingatkan selain merek kosmetik ilegal berharga murah, zat berbahaya kini juga ditemukan dalam kosmetika berharga hingga jutaan rupiah per produk. BBPOM akhirnya menutup gerai yang menjual merek ini disebuah pusat perbelanjaan mewah di Jakarta diikuti dengan di berbagai daerah, serta memerintahkan penarikannya dari pasaran.

    Di Surabaya, tempat penjualan dan konsultasi kecantikan Doctor Kayama di Galaxy Mall juga telah ditutup sejak sepekan lalu. Arif, staf house keeping Galaxy Mall mengatakan sudah semingguan ini gerai ini tutup.

    Penarikan kosmetik berbahaya juga terjadi pada merek-merek lain, 11 produk impor asal Jepang dan China, 8 produk buatan lokal serta 8 produk lain yang tak jelas asalnya.

    Kepala Disperindag Jatim, Ir Cipto Budiono mengkhawatirkan para wanita Indonesia akan menjadi sasaran empuk bagi kosmetik asing tanpa ada jaminan keamanan dari pemerintah. Kondisi ini akan menjadi lebih cepat karena DPR telah meratifikasi ASEAN Charter (Piagam ASEAN) beberapa waktu lalu. Piagam ASEAN yang berisikan harmonisasi pasar ASEAN ini mewajibkan Indonesia membuka pasarnya untuk produk-produk asing. Target sebenarnya, tahun 2010 kawasan Asia Pasifik sudah harus terbuka bagi barang dan jasa, sebagai pasar bebas yang dianut oleh Asia Pacific Economy Cooperation (APEC). Selanjutnyatahun 2020, pasar dalam negeri harus terbuka untuk produk negara-negara maju.

    Produk perawatan kesehatan yang terdiri dari obat, obat tradisional, kosmetika, dan alat kesehatan adalah satu dari 12 produk yang pelaksanaan harmonisasinya dipercepat dalam rangka menyambut AFTA 2010. Kedua belas produk ini memberikan kontribusi yang cukup besar bagi perdagangan di negara-negara ASEAN.

    “Perubahan yang besar dari penerapan itu adalah tidak ada lagi sistem registrasi produk, yaitu evaluasi sebelum produk tersebut beredar di pasar. Tetapi hanya notifikasi,” katanya.

    Dengan dilepasnya pengawasan pramarket, maka bukan hanya produk asing, tetapi produk palsu bermerek asing juga akan menggunakan kesempatan ini.

    dr Mira Indramaya SpKK, staf Departemen dan SMF Kesehatan Kulit dan Kelamin RSU dr Soetomo menjelaskan pada dasarnya kosmetik mengandung tiga bahan yaitu bahan dasar, bahan aktif dan bahan campuran. Dari ketiga bahan tersebut, tidak menutup kemungkinan dalam satu kosmetik terdapat ribuan zat atau bahan yang terkandung.

    ”Tidak ada kosmetik yang benar-benar aman untuk semua orang,” kata dr Mira .

    Dijelaskannya meskipun kandungan kosmetik aman namun untuk orang dengan jenis kulit sensitif, kosmetik bisa menjadi masalah. Penggunaan merkuri dalam krim pemutih dapat menimbulkan berbagai hal, mulai dari perubahan warna kulit yang akhirnya dapat menyebabkan bintik-bintik hitam pada kulit, iritasi kulit, hingga alergi.

    “Pemakaian dalam dosis tinggi bisa menyebabkan kerusakan permanen otak, ginjal, dan gangguan perkembangan janin,” kata dr Mila.

    Selain itu, dr Mira menjelaskan untuk hidrokuinon memang obat keras, namun penggunaannya masih boleh dengan catatan harus dengan resep dokter. Penggunaan hidrokuinon berlebihan dalam kosmetik dapat membuat kulit merah dan rasa terbakar, serta kelainan pada ginjal, kanker darah, dan kanker sel hati. ”Kalau dokter kan tahu efeknya, sehingga dia bisa memberi petunjuk bagaimana penggunaannya. Misalnya, tidak boleh pakai di siang hari, tidak boleh terkena paparan sinar matarahari langsung sehingga harus menggunakan sunblock,” jelasnya.

    Sodium Lauril Sulfat (SLS) juga banyak terdapat pada produk sabun bersifat iritasi dan dapat memicu dermatitis. SLS juga mengandung formaldehid yang dapat memicu alergi, asma, sakit kepala, depresi, pusing, dan nyeri sendi.

    Alkohol atau isopropyl banyak terdapat pada hand and body lotion dan parfum. Penggunaan berlebihan dapat menyebabkan sakit kepala, depresi, dan mual. Selain itu, dapat juga menyebabkan kekeringan pada kulit yang memungkinkan bakteri tumbuh subur.

    Zat warna rhodamin adalah zat warna sintetis yang umumnya digunakan sebagai zat warna kertas, tekstil, atau tinta. Zat warna ini dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan dan merupakan zat karsinogenik. Rhodamin dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada hati. Dan kaum perempuanlah yang pertama kali menjadi korban dari peredaran kosmetika berbahaya tanpa perlindungan.

    Mahalnya harga kosmetik, jelas dr Mira tidak menjamin bahwa kosmetik tersebut tidak berbahaya. Namun, dengan harga mahal bisa diasumsikan bahwa produsen yang membuatnya memiliki dana untuk melakukan penelitian dan evaluasi kualitas kosmetik, saat kosmetik tersebut akan diluncurkan ke masyarakat. Sebaliknya untuk produsen kosmetik kecil dengan harga produk murah, usaha untuk melakukan penelitian dan evaluasi kualitas produk hampir dipastikan tidak ada. k1

    surabayapost.co.id

    —————————————————————

    Want More ?

    How Fat Went Global

    Plastic Surgery for the Dead

    Never Sleep Skin

    Dampak Dandan terhadap Nilai Tukar Rupiah

    READ THIS FIRST !

    Stop Using Dangerous Cosmetics !

    True Story : Bencana Krim Siang & Krim Malam

    Dikagumi 9 dari 10 Laki-laki

     
  • dustyswan 6:33 am on March 20, 2009 Permalink | Reply
    Tags: injeksi kecantikan ilegal, , injeksi pemutih, injeksi salon berbahaya, , suntik putih,   

    PENYALAHGUNAAN SILIKON TERNYATA MASIH MARAK 

    injeksiDi Indonesia dampak negatif suntik silikon sebenarnya sudah ada. Masyarakat Indonesia, terutama kaum wanitanya, pasti pernah mendengar kasus Ny Martha. Wajah ibu tiga orang anak tersebut seakan tak berbentuk sebagai akibat suntik silikon ke wajahnya tiga tahun lalu.

    Lebih parah dari itu adalah kasus gadis cantik Hilda Pasman. Gadis belia tersebut akhirnya meninggal akibat suntikan silikon ke payudaranya. Padahal Indonesia gadis tersebut tengah berlibur karena sebelumnya bermukim di Belanda.

    Menurut Sekjen Perhimpunan Ahli Bedah Plastik Indonesia (Perapi) dr Theddeus O.H. Prasetyono MD, sepanjang tiga tahun terakhir anggota Perapi menangani 249 kasus akibat suntikan silikon, khususnya silikon cair. Kasus tersebut baru 15 persen yang dilaporkan anggota Perapi. “Jumlahnya akan lebih besar lagi karena seperti fenomena gunung es,” katanya di Jakarta baru-baru ini seperti dikutip Antara.

    Penggunaan silikon, khususnya yang cair, untuk tujuan medis sebenarnya sudah dilarang oleh pemerintah sejak tahun 1970. Namun hingga kini masih saja terjadi penyalahgunaan penyuntikan untuk tujuan mempercantik bagian tubuh tertentu para wanita.

    Sayangnya banyak wanita yang ingin cantik secara instan kurang paham seluk beluk silikon. Padahal bahan yang disuntikkan ke tubuh mereka itu adalah silikon untuk industri. Bahkan tak jarang untuk keperluan penambal akuarium.

    Lebih buruk dari itu, tindakan dilakukan bukan oleh dokter ahli bedah plastik. Tindakan penyuntikan dilakukan oleh tenaga ahli tersebut di klinik biasa atau salon kecantikan. Masyarakat memilih klinik atau salon kecantikan karena berbiaya lebih murah. Bahkan kini beredar kabar, ada yang berani menawarkan jasa suntik silikon cair hanya dengan biaya Rp 100.000.

    Sekadar perbandingan, biaya operasi bedah plastik, misalnya, untuk memperindah hidung antara Rp 6 juta hingga Rp 11 juta. Sedangkan di klinik atau salon kecantikan berkisar Rp 3 juta sampai Rp 4 juta.

    “Umumnya masyarakat tidak tahu kalau pekerjaan itu tidak boleh dilakukan oleh profesi yang bukan dokter spesialis bedah dan biasanya dapat informasi dari rujukan teman atau dari rayuan pelaku,” kata Teddy, panggilan dr Theddeus.

    Selain persoalan tersebut, kaum wanita sudah saatnya menyadari bahwa penggunaan silikon cair sudah dilarang. Pelarangan itu mencakup untuk keperluan medis atau pun estetis karena berdampak buruk bagi fungsi organ tubuh. Pakar bedah plastik menyebut dampak negatif itu bisa berupa kulit tubuh menjadi jelek yang disertai warna merah pada bagian luar. Sedangkan dampaknya untuk kesehatan bisa seperti pusing-pusing dan infeksi organ.

    Partikel silikon cair yang disuntikkan pada akhirnya akan menumpuk di jaringan dan memicu timbulnya reaksi inflamasi kronik yang disebut silikonoma.

    Teddy menjelaskan, karena bentuknya yang cair, silikon cair yang disuntikkan ke organ tubuh akan meresap ke organ tubuh yang lain sehingga dampaknya sangat sulit dikontrol.

    “Silikon cair juga tidak bisa diambil kembali dari jaringan secara menyeluruh dan bila sudah mengakibatkan gangguan akan sulit disembuhkan dan biaya penyembuhannya sangat mahal,” jelasnya.

    Berkenaan dengan materi silikon, Teddy menjelaskan bahwa material tersebut sebenarnya merupakan bahan terbaik untuk kebutuhan implan guna memperbaiki tubuh manusia karena bersifat innert atau bisa diterima tubuh tanpa menimbulkan reaksi yang berarti.

    “Dia tidak mengalami perubahan kimia di dalam tubuh, tetap stabil di dalam tubuh dan tidak terpengaruh suhu tubuh,” jelasnya.

    Namun ia menegaskan, penyuntikan organ tubuh dengan silikon cair untuk keperluan apa pun tidak diperkenankan.

    Operasi bedah plastik untuk tujuan rekonstruksi dan estetis sendiri, katanya, hanya menggunakan gel silikon dan silikon padat.

    Gel silikon yang merupakan campuran antara silikon padat dan cair yang dibungkus dengan lembar silikon biasanya digunakan untuk pengisi implan payudara.

    Sedangkan silikon padat terdiri atas lembar silikon atau bentuk implan jadi buatan pabrik yang digunakan untuk keperluan tertentu, seperti protesis katup jantung, testis tiruan serta implan hidung dan pipi.

    Keputusan untuk melakukan setiap tindakan operasi bedah plastik sendiri, kata Teddy, harus dikonsultasikan dan dilakukan oleh oleh dokter yang memiliki kompetensi dan izin resmi untuk melakukannya.

    Kolagen

    Sebenarnya di samping silikon masih ada benda sejenis, yaitu kolagen. Cairan kolegan yang sudah masuk, misalnya disuntikkan lewat payudara, selanjutnya membentuk jaringan ikat kulit yang bisa menjadi keras dan kencang.

    Cairan kolagen di kalangan dokter ahli bedah plastik merupakan kumpulan protein yang berasal dari rantai asam amino. Jika terjadi kesalahan tindakan, maka yang muncul adalah gelembung-gelembung. Bila diraba di sekitar payudara terasa benjolan seperti kelereng.

    Dalam tubuh sendiri, kolagen terus diproduksi terutama rangka tubuh yang fungsinya sebagai bantalan antarsel. Sejalan dengan usia manusia, produksi kolagen bisa menurun yang ditandai dengan kerut-kerut di wajah.

    Dokter ahli bedah plastik biasanya memberikan suntikan kolagen dari produksi di luar tubuh manusia. Kemajuan teknologi kedokteran memang memungkinkan misalnya dari tunjang hewan seperti sapi. Penyuntikan kolagen bisa membuat kulit yang semula berkerut menjadi mulus kembali.

    Produksi kolagen dimulai sejak 1980-an. Awalnya difungsikan sebagai skin pengisi kulit, misalnya lubang bekas jerawat atau cacar bisa tertutup lagi. Kulit pun kembali mulus. Suntik kolagen ini bukan tanpa dampak negatif. Bisa berupa penolakan oleh tubuh sendiri. Bila dilakukan lewat suntik bisa menyebar ke seluruh tubuh. Sebut saja jika suntikan dilakukan di kaki, bisa jadi benjolan-benjolan akan muncul di bagian tubuh yang lain, misalnya selangkangan.

    Lain halnya dengan silikon yang merupakan rentetan molekul silikat. Sebagian besar dokter ahli bedah plastik menjelaskan, makin panjang rentetan tersebut, bisa kian keras bahannya. Bila terkait dengan panjang dan pendeknya rentetan molekul, silikon tersebut dibagi menjadi silikon cair, kental (jelly) dan padat.

    Silikon dalam bentuk jelly dikemas dalam kemasan khusus dengan tujuan agar tak pecah dan menyebar ke seluruh tubuh. Dalam bedah plastik, silikon padat dan jelly memang yang paling sering digunakan.

    Bisa Diatasi

    Silikon cair berbahaya dan sudah dilarang oleh pemerintah memang benar. Penggunaannya adalah akibat kian majunya teknologi kedokteran. Meski berbahaya dan bisa merenggut nyawa, bukan berarti tak ada jalan keluarnya.

    Ini pula yang ditemukan oleh tim dokter dari RS Saiful Anwar (RSAA), Malang. Tim dokter dari kota tersebut menemukan cara baru untuk menanggulangi infeksi akibat suntikan silikon cair.

    Dokter ahli bedah plastik di RS tersebut menggunakan obat phytofarmaka, berupa ekstrak tumbuhan dari China. Juga digunakan kapsul biologic response modifier (BRM) yang fungsinya untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

    Nah, masih ada lagi, dokter di sana menggunakan peeling, sejenis obat kanker yang dapat menghaluskan kulit.

    Cara penanggulangan itulah yang dilakukan saat tim dokter RSSA menangani kasus Nyonya Marta (45) yang mengalami inflamasi (peradangan) akibat suntikan silikon cair pada Maret 1998 silam. Saat itu Nyonya Marta disuntik silikon cair pada bagian muka, dahi, hidung, dan dagu sebanyak tiga kali. (Mangku/berbagai sumber)

    http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=173345

    —————————————————–

    Want More ?

    Dampak Dandan terhadap Nilai Tukar Rupiah

    READ THIS FIRST !

    Stop Using Dangerous Cosmetics !

    True Story : Bencana Krim Siang & Krim Malam

    Dikagumi 9 dari 10 Laki-laki

     
    • peranika 6:52 am on June 9, 2015 Permalink | Reply

      klo di banda aceh ada ngak

    • ningsih 1:19 pm on December 25, 2013 Permalink | Reply

      Maaf bapa apah ada cara membuang silikon di wajah dengan obat

    • sandra 5:49 am on April 8, 2010 Permalink | Reply

      Aduh jangan deh…..bahaya bgt tau gak?Guys…syukuri apa yg diberikan Tuhan.klo hitam ya ga usah diputihin, klo pesek ya gak usah dbikin mancung, apalagi dgn cara bahaya seperti silikon ato bedah plastik yg tetep brisiko nantinya. yg penting adalah mnjaga n merawat tubuh, itu adalah wujud bgmna cara kita menjaga karunia Tuhan. Lagian antara kita melihat pasangan kita atau membuat daya tarik bukan hanya dengan kesempurnaan daya tarik tubuh tapi kebersihan, personality, dan paling penting komunikasi….

      • beautyonwatch 12:10 pm on April 8, 2010 Permalink | Reply

        inilah jawaban wanita bijak 🙂 betul…semoga semua perempuan menyadari ini ya

    • hendra 11:27 am on January 14, 2010 Permalink | Reply

      kalo di bandung ada ga,,,kalo ada minta almatnya,,,terima kasih

      • beautyonwatch 6:25 am on January 15, 2010 Permalink | Reply

        coba cek ke RS. Borromeus dan RS. Immanuel. kalau gak salah ada

    • nila 6:19 am on March 25, 2009 Permalink | Reply

      minta alamtnya donk di malang yang bisa mengobati silikon pada hidung dan dagu jwb skarg yahhhh trims

      • beautyonwatch 7:21 am on March 25, 2009 Permalink | Reply

        yang biasa menangani masalah kerusakan wajah akibat suntik silikon ilegal alah dokter bedah plastik. untuk malang : RSSA
        Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar (RSAA)
        Jl. Jaksa Agung Suprapto, No. 2, Malang
        Tel: 0341-359 960
        Fax: 0341-359 960
        kalo boleh tau, kasusnya gimana supaya tau penyelesaian terbaik. kalau bisa kirim foto kesini dan ceritakan disini supaya kasusmu bisa menolong orang yg punya kasus yang sama. karena kasusnya banyaaakk banget. kasian kan kalo lebih banyak orang lagi jadi korban salon/praktik kecantikan ilegal.
        cepat sembuh ya…..

        • Annisa 9:51 am on October 1, 2013 Permalink | Reply

          Klw di jakarta Ada ga untuk mengobati Dan menghilangkan silicon di payudara?

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel