Susahnya Ingin Cantik


Jumat, 28 Nopember 2008 | 13:05 WIB
Setiap perempuan ingin memiliki wajah bersih, bebas jerawat, putih dan terawat. Tak heran, bila klinik kecantikan terus bermunculan bak jamur di musim penghujan dan gencar menawarkan berbagai produk kecantikan untuk mengatasi hal tersebut. Namun, kosmetik mahal yang acap dikonsumsi kalangan menengah atas pun tak menjamin bahwa produk tersebut aman digunakan.

Itu setelah BBPOM (Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan) Pusat memerintahkan agar 27 merek produk kosmetik berbahaya ditarik dari pasaran (belakangan ada 30 merek susulan yang ditarik). Termasuk diantaranya beberapa produk cukup terkenal, yang dijual dipusat perbelanjaan mewah dengan pelanggan kalangan menengah atas. Dari 27 merek kosmetik berbahaya yang telah diuji oleh BBPOM, sebagian adalah merek terkenal.

Misalnya merek Doctor Kayama, diklaim sebagai produk buatan Jepang dan bahkan menggunakan artis terkenal sebagai bintang iklannya diantaranya duo Ratu (formasi lama) Maia Esthianti dan Mulan, Cici Paramida, Vonny Cornelia, Widyawati dan masih banyak lagi.

Yang mencengangkan, berdasarkan hasil penyelidikan BBPOM diketahui perusahaan yang memproduksi produk itu yakni Ichiyama International Pte,ltd tidak terdaftar di Jepang. Universal Beauty Enterprise Sdn,Bhd selaku importir yang mengimpor produk tersebut dari Jepang ternyata juga tidak pernah terdaftar di Malaysia. Dokumen yang diajukan ke BPOM oleh CV. Estetika Karya Pratama selaku penjual dan pembuatnya di Indonesia ternyata palsu.

Ditariknya produk yang dijual secara eksklusif – tak dijual bebas di pasaran- ini membuat para pelanggan Doctor Kayama di Surabaya panik. Para wanita yang ingin tampil cantik pun juga was-was akan keamanan aneka produk kecantikan yang beredar di pasaran. Sebab waktu membuktikan, merek dan produk mahal pun tak menjamin bebas dari kandungan bahan kimia berbahaya.

Ira Meilani, Sekretaris Public Relations Hotel Garden Palace Surabaya mengaku sangat bingung dan takut dengan maraknya kosmetik yang mengandung bahan kimia berbahaya seperti mercuri, rhodamin B dan sejenisnya. Sebab, dia memiliki kulit wajah yang sangat sensitif. Selama 14 tahun terakhir, dia kerap keluar masuk dokter dan klinik kecantikan untuk menjaga penampilan dan kecantikan wajahnya. Dan dia tergiur memakai Doctor Kayama setelah banyak teman-temannya sukses menggunakan produk itu. ”Jujur, saya syok saat Doctor Kayama Skin Care masuk ke dalam daftar kosmetik berbahaya. Sebab, rencananya tanggal 30 November ini, saya mau mencoba perawatan klinik yang ada di Galaxy Mall tersebut. Waduh, susah juga pengen cantik ya,” kata Ira.

Perempuan yang baru 7 bulan kerja di Garden Palace ini menjelaskan banyak temannya merupakan kastemer tetap Doctor Kayama. Produk impor dari Jepang ini dikenal sebagai produk branded karena harganya mahal. Pemakainya rata-rata memiliki wajah yang bersih dan terawat. Karena itu dirinya tertarik untuk mencoba.

Sejak produk itu ditarik dari peredaran, Ira mengaku bingung menentukan kosmetik dan klinik kecantikan yang aman. Sebab, harga perawatan yang mahal seperti Doctor Kayama Skin Care toh tidak menjamin bahwa produk yang ditawarkan aman digunakan.

Esthi, salah satu karyawan swasta di Jl Penghela juga kaget saat Doctor Kayama ditarik dari peredaran. Padahal dia mengenal produk itu sejak setahun terakhir saat ada kegiatan temu pelanggan Doctor Kayama secara besar-besaran di Hotel Shangri-La Surabaya tahun lalu. Saat itu kegiatan itu bertabur artis, bahkan artis senior Widyawati ikut memberikan testimoni rahasia kecantikan kulitnya menggunakan produk Doctor Kayama.

“Saat itulah saya tertarik pakai. Harganya mahal, satu paket mulai sabun pembersih, krem malam dan siang sekitar Rp 2,5 juta. Dan untuk sekali perawatan termasuk facial di klinik yang sama, saya selalu habis Rp 1 juta. Saya masih nggak percaya apa benar produk itu berbahaya untuk kesehatan ya,” kata Esthi yang sekarang mengaku takut meneruskan menggunakan produk itu setelah ada kabar pencekalan, padahal produk masih tersisa cukup banyak.

Dia mengaku tertarik menggunakan produk impor itu karena diklaim menggunakan

bahan alami sari tumbuh-tumbuhan (botanical) yang telah melalui uji coba para dermatolog Jepang. Selain itu dia melihat para pengguna memiliki kulit bersih dan putih. Sedangkan khasiat dari produk itu juga dirasakannya. “Sempat terpikir apa nggak karena persaingan bisnis ya. Soalnya banyak produk sejenis di pasaran, sama-sama diklaim produk impor dan selama ini aman beredar,” katanya.

President Direktur Miracle Group –pusat perawatan kecantikan-, dr Lani Juniarti mengatakan pengguna kosmetik memang harus berhati-hati dalam menentukan pilihan. Sebab banyak kosmetik yang mengandung bahan berbahaya. Namun, dia menjamin bahwa produk yang dijual di Miracle tidak menggunakan bahan-bahan terlarang seperti merkuri, dan zat pewarna rhodamin B. ”Produk kami menggunakan bahan asam asetat, vitamin C. Produk kami juga tidak dijual bebas tanpa pengawasan,” kata dr Lani.

Dia menyarankan agar para konsumen lebih waspada dan tidak sembarangan memilih produk kosmetik. Sebaliknya melihat dulu daftar isi di dalam kemasan, atau lebih baik memilih produk yang sudah terbukti aman digunakan.

Meskipun saat ini pemberitaan produk kosmetik berbahaya sangat gencar, namun ujar dr Lani pihaknya tak takut kehilangan kastemer. Sebab, dalam praktiknya sehari- hari, Miracle selalu memberikan informasi dan edukasi tentang kesehatan dan produk yang ditawarkan.

Sasaran Empuk

Sekadar mengingatkan selain merek kosmetik ilegal berharga murah, zat berbahaya kini juga ditemukan dalam kosmetika berharga hingga jutaan rupiah per produk. BBPOM akhirnya menutup gerai yang menjual merek ini disebuah pusat perbelanjaan mewah di Jakarta diikuti dengan di berbagai daerah, serta memerintahkan penarikannya dari pasaran.

Di Surabaya, tempat penjualan dan konsultasi kecantikan Doctor Kayama di Galaxy Mall juga telah ditutup sejak sepekan lalu. Arif, staf house keeping Galaxy Mall mengatakan sudah semingguan ini gerai ini tutup.

Penarikan kosmetik berbahaya juga terjadi pada merek-merek lain, 11 produk impor asal Jepang dan China, 8 produk buatan lokal serta 8 produk lain yang tak jelas asalnya.

Kepala Disperindag Jatim, Ir Cipto Budiono mengkhawatirkan para wanita Indonesia akan menjadi sasaran empuk bagi kosmetik asing tanpa ada jaminan keamanan dari pemerintah. Kondisi ini akan menjadi lebih cepat karena DPR telah meratifikasi ASEAN Charter (Piagam ASEAN) beberapa waktu lalu. Piagam ASEAN yang berisikan harmonisasi pasar ASEAN ini mewajibkan Indonesia membuka pasarnya untuk produk-produk asing. Target sebenarnya, tahun 2010 kawasan Asia Pasifik sudah harus terbuka bagi barang dan jasa, sebagai pasar bebas yang dianut oleh Asia Pacific Economy Cooperation (APEC). Selanjutnyatahun 2020, pasar dalam negeri harus terbuka untuk produk negara-negara maju.

Produk perawatan kesehatan yang terdiri dari obat, obat tradisional, kosmetika, dan alat kesehatan adalah satu dari 12 produk yang pelaksanaan harmonisasinya dipercepat dalam rangka menyambut AFTA 2010. Kedua belas produk ini memberikan kontribusi yang cukup besar bagi perdagangan di negara-negara ASEAN.

“Perubahan yang besar dari penerapan itu adalah tidak ada lagi sistem registrasi produk, yaitu evaluasi sebelum produk tersebut beredar di pasar. Tetapi hanya notifikasi,” katanya.

Dengan dilepasnya pengawasan pramarket, maka bukan hanya produk asing, tetapi produk palsu bermerek asing juga akan menggunakan kesempatan ini.

dr Mira Indramaya SpKK, staf Departemen dan SMF Kesehatan Kulit dan Kelamin RSU dr Soetomo menjelaskan pada dasarnya kosmetik mengandung tiga bahan yaitu bahan dasar, bahan aktif dan bahan campuran. Dari ketiga bahan tersebut, tidak menutup kemungkinan dalam satu kosmetik terdapat ribuan zat atau bahan yang terkandung.

”Tidak ada kosmetik yang benar-benar aman untuk semua orang,” kata dr Mira .

Dijelaskannya meskipun kandungan kosmetik aman namun untuk orang dengan jenis kulit sensitif, kosmetik bisa menjadi masalah. Penggunaan merkuri dalam krim pemutih dapat menimbulkan berbagai hal, mulai dari perubahan warna kulit yang akhirnya dapat menyebabkan bintik-bintik hitam pada kulit, iritasi kulit, hingga alergi.

“Pemakaian dalam dosis tinggi bisa menyebabkan kerusakan permanen otak, ginjal, dan gangguan perkembangan janin,” kata dr Mila.

Selain itu, dr Mira menjelaskan untuk hidrokuinon memang obat keras, namun penggunaannya masih boleh dengan catatan harus dengan resep dokter. Penggunaan hidrokuinon berlebihan dalam kosmetik dapat membuat kulit merah dan rasa terbakar, serta kelainan pada ginjal, kanker darah, dan kanker sel hati. ”Kalau dokter kan tahu efeknya, sehingga dia bisa memberi petunjuk bagaimana penggunaannya. Misalnya, tidak boleh pakai di siang hari, tidak boleh terkena paparan sinar matarahari langsung sehingga harus menggunakan sunblock,” jelasnya.

Sodium Lauril Sulfat (SLS) juga banyak terdapat pada produk sabun bersifat iritasi dan dapat memicu dermatitis. SLS juga mengandung formaldehid yang dapat memicu alergi, asma, sakit kepala, depresi, pusing, dan nyeri sendi.

Alkohol atau isopropyl banyak terdapat pada hand and body lotion dan parfum. Penggunaan berlebihan dapat menyebabkan sakit kepala, depresi, dan mual. Selain itu, dapat juga menyebabkan kekeringan pada kulit yang memungkinkan bakteri tumbuh subur.

Zat warna rhodamin adalah zat warna sintetis yang umumnya digunakan sebagai zat warna kertas, tekstil, atau tinta. Zat warna ini dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan dan merupakan zat karsinogenik. Rhodamin dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada hati. Dan kaum perempuanlah yang pertama kali menjadi korban dari peredaran kosmetika berbahaya tanpa perlindungan.

Mahalnya harga kosmetik, jelas dr Mira tidak menjamin bahwa kosmetik tersebut tidak berbahaya. Namun, dengan harga mahal bisa diasumsikan bahwa produsen yang membuatnya memiliki dana untuk melakukan penelitian dan evaluasi kualitas kosmetik, saat kosmetik tersebut akan diluncurkan ke masyarakat. Sebaliknya untuk produsen kosmetik kecil dengan harga produk murah, usaha untuk melakukan penelitian dan evaluasi kualitas produk hampir dipastikan tidak ada. k1

surabayapost.co.id

—————————————————————

Want More ?

How Fat Went Global

Plastic Surgery for the Dead

Never Sleep Skin

Dampak Dandan terhadap Nilai Tukar Rupiah

READ THIS FIRST !

Stop Using Dangerous Cosmetics !

True Story : Bencana Krim Siang & Krim Malam

Dikagumi 9 dari 10 Laki-laki