Me, my dog and my God

Sekitar 3 minggu yang lalu, pulang dari depok, aku bawa seplastik jeruk lemon oleh-oleh dari mertuaku tercinta. Seperti biasanya, anjing peliharaanku -seekor pudel yang bulunya putih kucel- menyambut aku dengan sangat antusias.

Hampir sama seperti manusia, setiap anjing punya karakter sendiri-sendiri. Ada yang suka bermain, berkelahi, sensitif, periang, dsb. Anjingku ini agak berbeda dengan anjing pada umumnya. Bisa dibilang, seumur hidupnya dia mendedikasikan seluruh waktu, perhatian, jiwa dan raganya untuk melekat kepadaku. Kalau aku pergi keluar, dengan setia dia akan menunggu di halaman sampai aku pulang. Selama aku di rumah, dia hanya duduk di bawah kakiku dan memandang wajahku. Kemanapun aku melangkah di rumah -ke toilet, ke dapur, ke kamar- dia selalu mengikuti aku. Saking nempelnya sama aku, dia pernah sakit selama beberapa hari waktu aku tinggal keluar kota.

Singkat cerita, jeruk yang aku dapat dari mertuaku aku berikan sebutir untuk anjingku. Nampaknya dia suka sekali dengan jeruk itu. Dijagainya jeruk itu, ditaruh di dalam mulutnya dan dibawa kemana-mana. Hampir sepanjang hari dia akan duduk dekat jeruk kecil itu, bahkan tidurpun ditemani jeruk itu. Waktu aku dekati anjingku, dia menggeram seperti memperingati musuh supaya menjauh dari propertinya. Beberapa kali aku mencoba mengambil jeruk itu, tanganku hampir digigit. Selama hari-hari itu, anjingku kehilangan perhatiannya kepadaku, saat itu perhatiannya hanya terfokus pada jeruk yang sudah hampir membusuk.

Setelah 3 hari kami hidup saling bermusuhan. Dia tetap mempertahankan jeruknya, sementara aku jadi marah dengan ‘perselingkuhannya’. Selama 14 tahun aku rawat, pelihara dan sayang, karena sebutir jeruk yang tidak berharga dia meninggalkan aku. Pedihnya hatiku hehehe…

Akhirnya aku mengambil sikap tegas. Karena dia tak juga berubah setia, aku ambil dan buang jeruknya. Ternyata setelah jeruknya dibuang, dia kembali setia. Dan lupa jeruknya sama sekali.

3 minggu setelah kejadian itu berlalu, aku duduk membahas hal itu dengan suamiku. Akhir-akhir ini suamiku sedang mabuk berat dengan disertasinya. Dari senin ke minggu kembali lagi ke senin, dari pagi ke malam kembali lagi esok harinya hanya tiga hal yang ada dipikirannya : saham, kerjaan dan disertasi. Seperti bunga yang berhari-hari tidak disiram, aku merasa layu dan kurang perhatian (cieh…) Hidup terasa sangat kaku dan rutin. Bosan jadinya.

Setelah berdiskusi panjang lebar mencari akar permasalahannya kenapa hidup kami jadi tak seimbang, ternyata semuanya berawal dari pola pikir yang salah. Kami percaya hidup harus seimbang dan memiliki prioritas. Dari sejak sebelum kami menikah kami sudah menetapkan prioritas kami : pertama : sumber kekuatan kami Tuhan, kedua : rumah tangga kami, ketiga : pekerjaan.

Kami tau kami tidak mampu berjalan dengan kekuatan sendiri dalam menjalani rumah tangga kami dan menghadapi berbagai persoalan. Jadi pagi-pagi benar, kami menyediakan waktu khusus untuk bergaul  intim dengan Tuhan. Ini bukan sekedar kegiataan keagamaan, tapi hubungan yang hidup dan mengalir seperti dengan sahabat bahkan seperti bapa dan anak.

Inilah kekuatan kami sehari-hari, walaupun kami sempat mengalami krisis ekonomi akibat kejatuhan pasar saham dunia, persoalan keluarga besar kami, persoalan2 lain yang notabene melekat dalam rumah tangga, kami tetap bahagia, damai dan seimbang. Segala persoalan kami tanggungkan di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada kami. Bahkan selama kami melekat erat dengan Tuhan, kekurangan kami satu sama lain tidak terlihat, yang ada hanya kasih yang mengalir dari Pencipta kami yang mampu menutupi segala kekurangan. Kami pun sanggup mengatasi masalah dalam keluarga besar tanpa harus dengan sinis berkata : kalau di keluargaku kayak gini, keluarga kamu tuh.. bla bla bla….

Sampai suatu ketika Tuhan mempercayakan suamiku bisa lolos tes untuk masuk program doktor keuangan di UI. Kami percaya ini adalah suatu berkat bagi hidup kami dan rencana Tuhan yang lebih besar di depan. Jadi pada awalnya suamiku menganggap kuliahnya sebagai pelayanannya terhadap Tuhan dan rumah tangganya.

Itu pada awalnya. Setelah suamiku lulus ujian preliminary dengan mulusnya -sementara beberapa temannya banyak yang tidak lulus dan drop out-, suamiku lupa tujuan semula untuk ‘melayani Tuhan dan rumah tangganya’ melalui kuliahnya. Pada saat kesulitan mulai melanda, sementara di sisi lain ekspektasi dirinya, keluarga besar dan lingkungannya terhadap kelulusan suamiku semakin besar karena banyaknya tawaran menarik, kuliahnya bergeser dari ‘sarana’ menjadi tujuan yang setara dengan ‘berhala’ yang dipuja.

Keintiman dengan Tuhanpun semakin memudar. Karena siang dan malam pikiran suamiku dipenuhi kekuatiran akan kuliahnya yang memacunya untuk mengerahkan kekuatan diluar batas. Akibatnya secara tak sadar suamiku tercinta mengandalkan kekuatannya sendiri dan pertolongan teman-temannya. Karena kekuatan manusia pada dasarnya terbatas, terjadilah ketidakseimbangan karena banyak hal harus dikorbankan, salah satunya aku bunga kecil ini yang lupa disiram kekekekeke…..

Pada saat aku merengek minta dipupuk dan disiram, Tuhan mengingatkan kita akan peristiwa ‘anjing dan sebutir jeruk lemon’. Kami berdua merasa sangat ditegur karena pola pikir yang salah telah membuat kami kehilangan prioritas dan akhirnya hidup kami tak seimbang. Kami sudah memperlakukan berkat yang Tuhan percayakan kepada kami seperti anjing kami memperlakukan jeruknya. ‘Jeruk’ ini kami puja-puja, kami genggam rapat-rapat karena takut Sang Pemberi berkat ini mengambilnya dari kami sehingga kami secara tak sadar sedang memperingatkan Tuhan : jangan dekat-dekat dengan ‘jeruk’ kami karena ini milik kami. Kami lupa bahwa berkat ini ‘hanyalah’ pemberian. Seperti kami mengambil jeruk dari anjing kami saat dia semakin jauh akibat sebutir jeruk yang tak berharga itu, demikian pula Tuhan dapat mengambil berkat itu kapanpun Dia kehendaki kalau ‘sebutir jeruk’ -yang bagi ukuran-Nya tak berharga-  membuat kami membahayakan diri sendiri dan kehilangan Dia sumber kekuatan kami.

Saat itu kami belajar untuk memandang segala sesuatu dari kacamata Pencipta, supaya kami bijaksana.

Special thx for my lovely dog who teach us to be wise😀