Bedah Kecantikan di Kamboja Kini “Boom” di Tengah Kualitas yang Meragukan


Image link: http://www.inmagine.com/ispc091/ispc091027-photo

OPERASI kecantikan di Kamboja dewasa ini mencatat boom. Praktik bedah plastik di negara itu pesat karena banyak orang keranjingan terlihat cantik.
Namun sayangnya boom itu tak diimbangi dengan kualitas yang dapat diandalkan. Mutu bedah plastik di sana masih diragukan, sehingga risikonya cukup besar.

Begitupun, wanita yang sudah sangat ngebet terlihat cantik nekad menghadapi risiko yang mengancam kesehatan.
Salah satu contohnya adalah Phorn Lisa. Wanita ini tidak saja siap menjalani operasi membentuk hidung baru, dia juga nekad menanggung risiko terhadap kesehatannya.

“Saya sangat takut, namun siap menghadapinya,” ujar cewek berusia 25 tahun tersebut di sebuah klinik bedah kecantikan terkemuka di ibukota Kamboja, Phnom Penh.

“Saya ingin memiliki bentuk hidung yang mancung karena saya tak puas dengan hidung besar Kamboja saya,” ucap wanita tadi.
Kendati kemesorotan ekonomi global kini melanda, para pakar kesehatan di negara tadi mengatakan bisnis cosmetic surgery di Kamboja naik dua kali lipat, atau bahkan tiga kali lipat dalam beberapa tahun terakhir.

Davy Ariya, pemilik sebuah klinik di ibukota, mengatakan para klien termasuk kalangan orang kaya Kamboja serta “para turis medis” dari AS, Prancis dan Australia.

“Mereka umumnya datang untuk operasi perbaikan bentuk hidung, implantasi silikon, pembesaran payudara dan penghilangan bekas luka,” kata Ariya.
Suatu operasi hidung biasanya memakan waktu tak sampai setengah jam di klinik Ariya dan menelan biaya 280 sampai 600 dolar, tergantung pada kualitas materi yang digunakan dalam operasi itu.

Pembesaran payudara menelan biaya 1.500 sampai 1.700 dolar, lebih murah jika dibandingkan dengan biaya operasi serupa di negara-negara lain sekalipun jika tarif bayaran tadi hampir tiga kali lipat gaji rata-rata tahunan di Kamboja.
“Meskipun hal itu dipandang sembrono, kenaikan jumlah konsumen yang datang ke saya menunjukkan operasi kecantikan telah diterima oleh masyarakat Kamboja,” papar Ariya.

WAJAH BINTANG

Di tengah pesatnya operasi kecantikan, banyak wanita ingin memiliki bentuk wajah yang mereka nilai lebih lembut seperti muka kalangan bintang film populer Korea dan China.

Tapi bahkan saat operasi kian populer di antara warga kelas menengah, Kamboja masih tetap merupakan negara yang kurang serius menerapkan undang-undang dan banyak orang yang menyebut diri mereka sebagai dokter cuma memiliki pelatihan minim.

“Sejumlah orang pergi mempelajari (operasi kecantikan) di negara-negara tetangga hanya beberapa bulan saja. Mereka kemudian pulang ke tanahair dan sesumbar sudah ahli di bidang itu,” ujar Sann Sary, kepala departemen rumah sakit Kementerian Kesehatan.

Para dokter ahli bedah kecantikan diwajibkan mendaftarkan diri di kementerian kesehatan Kamboja dan memiliki kualifikasi semestinya, tapi kebanyakan dari mereka beroperasi secara leluasa dan ilegal, ungkapnya.

“Sejumlah (klinik ilegal) bahkan nekad mengiklankan klinik-klinik mereka di televisi,” lanjut Sann Sary.
Akibat rendahnya mutu operasi kecantikan, klien jadi dirugikan. Salah satu korban bedah plastik tak bermutu itu adalah Veasna, 40. Wanita ini sangat menyesal operasi wajah di sebuah klinik murahan. Dan hal itu mudah dimengerti. Wajahnya membengkak dan kemerah-kerahan, terutama di sekitar kedua matanya.

“Saya selama ini menderita rasa sakit luar biasa,” aku wanita tadi, yang terlihat sangat kesal dan menanti operasi perbaikan. “Tapi saya ingin terlihat lebih mudah dan cantik. Jika tidak, suami saya akan kabur bersama gadis-gadis lain.”

KORBAN

Chhim Vattey, direktur Samangkar Luxe Salon di Phnom Penh, menggunakan tenaga seorang dokter jebolan Jepang yang kerap mengatasi kerunyaman akibat ulah dokter-dokter bedah yang tidak bermutu.

Setelah lebih dua dekade, Chchim Vattey mengaku heran begitu banyak orang Kamboja mendatangi dokter-dokter ahli beda yang kurang memiliki keahlian sebagaimana mestinya.

“Lihat saja di jalan dan anda akan melihat puluhan klinik menjamur namun tanpa kualifikasi dan skill sesungguhnya,” ungkapnya. “Karena itulah saya masih memiliki banyak pasien yang merupakan korban operasi kecantikan.

Reid Sheftall, dokter ahli bedah kecantikan asal Amerika yang berkedudukan di ibukota Kamboja, menjelaskan dia kerap menangani operasi perbaikan pada payudara atau hidung yang bentuknya telah kacau, atau jaringan yang rusak karena tekanan terlalu besar.

“Sejumlah pasien mendapat suntikan silikon gratis pada hidung, wajah, payudara dan tangan,” kata Sheftall.
“Ini sangat berbahaya karena silikon itu dapat pindah ke bagian-bagian lain tubuh dan akan membentuk massa keras jaringan yang merusak di mana dia berhenti.”

Kendati ada cerita-cerita yang mengerikan, Sann Sary mengatakan praktik-praktik operasi meragukan masih berlanjut di masyarakat Kamboja hanya karena banyak orang ingin terlihat cantik. (afp/bh)/analisadaily.com