Suntik Payudara : Belajar dari Kasus Hilda

Hati-hati dengan Cara Instan untuk Cantik

JAKARTA – Tampil cantik dan sehat tentu sangat didambakan kaum wanita. Sehingga banyak cara instan yang ditempuh untuk cantik dalam sekejap tanpa memikirkan efek sampingnya. Contohnya, penyuntikan silikon cair maupun kolagen terhadap bagian tubuh tertentu untuk mempertahankan keindahan wajah dan tubuh.
Akibat ingin cantik dan molek itulah, seorang mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Belanda, Hilda Pasman (20), justru tewas ketika sedang berupaya menyempurnakan penampilannya dengan cara memperbesar payudara. Perempuan itu tewas setelah Ho Tjun Tju, pemilik Salon Cucu, yang membuka usaha 15 tahun di bidang kecantikan, menyuntikkan cairan yang diakui sebagai kolagen ke dalam payudara Hilda.
Polsek Metro Kebon Jeruk akan mengirimkan botol berisi cairan yang disuntikkan ke payudara Hilda itu, ke Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri, untuk memastikan apakah cairan itu kolagen atau zat lainnya. Untuk melengkapinya, Kapolsek Kebon Jeruk, Komisaris Ahmad Alwi, akan memanggil saksi ahli dari Departemen Kesehatan dan instansi terkait lainnya.
Di depan penyidik, Ho Tjun Tju mengatakan pada mulanya ia menolak memberikan suntikan kepada Hilda karena waktu itu hari Sabtu (7/8) sekitar pukul 16.00 WIB, ia hendak berangkat ke gereja. Tapi ternyata Hilda tetap memaksa Ho Tjun Tju supaya memberikan suntikan kolagen agar payudaranya membesar dan kencang. Beberapa saat kemudian setelah disuntik, Hilda justru kejang-kejang dan pingsan. Kemudian ketika dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD) RS Graha Medika, Hilda telah tewas.

Kejadian yang sama pernah terjadi pada Christin di Surabaya, yang tewas karena menyuntikkan kolagen ke dalam payudaranya pada tahun 2001. Di kalangan masyarakat pun, kini masih banyak ditemukan adanya kerusakan bentuk tubuh akibat kedua cairan tersebut. Menilik kasus-kasus tersebut sebenarnya dapat dikatakan upaya mempercantik diri itu sebenarnya hanya membuahkan kecantikan sesaat. Selanjutnya hanya penderitaan yang mereka dapatkan. Mengapa?
Seperti yang dikutip dari aplcare.com, silikon dan kolagen cair merupakan material yang banyak digunakan dalam operasi bedah plastik. Penggunaan silikon dan kolagen dalam bedah plastik harus dilakukan oleh dokter bedah plastik yang benar-benar mengerti mengenai hal ini. Alasannya, silikon maupun kolagen cair tidak dapat dibuang kapan pun diinginkan.
Penggunaan silikon dan kolagen untuk operasi plastik sebenarnya sangat terbatas. Silikon cair sudah ditinggalkan penggunaannya sejak 1970, karena banyak menimbulkan efek samping yang kurang baik. Sejak saat itu pula di luar negeri dikeluarkan pelarangan penggunaan silikon cair. Demi keamanan, implan silikon yang sampai saat ini masih digunakan adalah dalam bentuk padat dan gel.
Sedangkan penggunaan kolagen banyak dihindari karena reaksi hiper sensitivitas dan hasil yang kurang seimbang. Dr Sumintha B. Djaya, SpBP, anggota Perhimpunan Ahli Bedah Plastik Indonesia (Perapi) bahkan tidak percaya kolagen tidak ada lagi di Indonesia. Berdasarkan sifat dan cara kerjanya, penggunaan implan kolagen adalah sebagai sarana rejuvenasi kulit (mengatasi kerutan akibat proses penuaan), bukan untuk tujuan augmentasi (mempertinggi organ tertentu seperti memancungkan hidung, mempertinggi pipi, dsb).

Kerusakan Jaringan
Partikel-partikel silikon cair akan menumpuk di jaringan di tempat disuntikkan dan memicu timbulnya inflamasi kronik. Kerusakan jaringan yang demikian disebut sebagai silikonoma. Penyalahgunaan silikon cair akhir-akhir ini marak dilakukan, di klinik maupun salon kecantikan yang belum mendapatkan pendidikan tentang bedah plastik. Untuk salon-salon tertentu, mereka bahkan tidak memilki kualifikasi medis sama sekali. Umumnya, mereka menjanjikan kecantikan dan kemolekan dengan harga murah.
Di antara klinik dan salon tersebut banyak juga yang mencampur silikon cair dengan bahan-bahan lain yang dapat menambah kekenyalan. Selain itu, penambahan bahan ini juga untuk mempermurah harga silikon bagi pasien. Sayangnya, bahan-bahan tambahan itu pada akhirnya justru menyebabkan reaksi alergi pada tubuh. Akibatnya, bukan cantik dan molek yang didapat, tapi malah penyesalan seumur hidup dan tak jarang berujung pada kematian.
Menurut pengakuan Nunung (bukan nama sebenarnya), pemilik salon kecantikan, cairan silikon yang banyak digunakan saat ini adalah cairan minyak yang biasanya digunakan sebagai pelumas mesin foto copy. Warnanya bening dan berbentuk cair seperti minyak goreng. Di pasaran, cairan itu biasa dijual sekitar Rp 30.000 per liter, namun di toko kimia harganya bisa mencapai Rp 100.00 per liter.
Harga itu akan lebih mahal dua kali lipat, jika diperdagangkan di klinik maupun salon kecantikan. Lazimnya, perdagangan tersebut dilakukan dalam ukuran cc. Untuk membuat tonjolan di pipi, dagu maupun hidung, hanya membutuhkan 5 cc silikon. Sedangkan untuk memperbesar payudara diperlukan lebih dari 40 cc. Mereka harus membagi silikon dalam 5 cc silikon untuk satu kali penyuntikan. Ini berarti, ada sekitar delapan kali penyuntikan untuk memperbesar satu payudara.
Sementara itu, payudara dikelilingi oleh banyak pembuluh darah yang lembut. Ketidakhati-hatian dalam melakukan penyuntikan akan mengakibatkan pembuluh darah tersebut sobek. Ujung-ujungnya, cairan silikon tersebut bocor dan menjadi satu dengan darah, yang kemudian mengalir ke dalam jantung. “Itu kan kayak minyak jadi menggumpal ketika ada di jantung, sehingga jantungnya tidak dapat memompa darah. Atau paling ringan minyak itu bercampur dengan darah,” kata Nunung.
Nunung mengaku, selama ini dirinya selalu menolak pasien yang berkeinginan menyuntikkan silikon ke dalam bagian tubuhnya. Dia malah mengaku sering menolong dan mengobati orang-orang yang bentuk tubuhnya mengalami gangguan akibat penggunaan silikon.
Banyaknya korban yang jatuh tersebut, akibat maraknya klinik dan salon ilegal yang menggunakan silikon cair untuk mempercantik pasiennya. Namun, di Indonesia hal tersebut tak kunjung mendapatkan tindakan secara agresif. Mereka umumnya hanya dikenai pidana karena telah melakukan usaha ilegal. Sementara, hukuman karena telah memasukkan sesuatu ke dalam tubuh belum ada.
Untuk itu, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berusaha memasukkan permasalahan tersebut ke dalam salah satu pasal dalam Rancangan Undang Undang (RUU) Kedokteran. Surya Chandra, anggota Komisi VII DPR, mengemukakan bahwa pasal khusus tersebut akan memberi sanksi bagi setiap orang yang memberikan pelayanan seperti layaknya seorang dokter untuk mengintervensikan suatu benda ke dalam tubuh.
“Kalau salon-salon yang menggunakan jasa dokter tetapi tidak mendapatkan izin, maka dokternya pun juga bisa kena sanksi,” katanya. Hukuman yang diberikan akan semakin tinggi jika perbuatan tersebut mengakibatkan kematian. Dengan adanya undang-undang tersebut, paling tidak dapat membuat jera para pelakunya. (SH/tutut herlina/maya handini) sinarharapan.co.id/

——————————————————————–

Want More ?

Kosmetik Bocorkan Ginjal, Lebih 10 Wanita Bocor Ginjalnya di Medan

Praktik Bedah Platik Gelap, Dokter Dihukum 3 Tahun

Waria Tewas Usai Suntik Silikon

Disuntik Silikon, Hidung Lela Berantakan

Whitening Cream : Serigala Berbulu Domba ?

Mau Cantik, Maut Taruhannya

Memermak Kecantikan Berujung Kematian

Mengandung Zat Kimia Berbahaya